NasionalNewsViral

Dubes RI untuk Italia Terima Rombongan PWKI, Tekankan Pesan “Cinta Itu Menyatukan”

Jege Media, Roma–Malam mulai turun di Via Campania 53–55, Roma, ketika sebuah van hitam berhenti di depan sebuah bangunan megah yang pernah berdiri dalam lintasan sejarah kota itu. Dari kendaraan itu turun rombongan kecil mengenakan jaket tebal, disambut seorang pria di depan pintu. Dari sini, kehangatan malam perlahan menggantikan udara dingin Roma yang hanya empat derajat Celsius. Di dalam gedung yang kini menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Italia, aroma sop buntut khas Indonesia menyambut para tamu.

“Silakan langsung makan, sopnya sudah lama menunggu untuk menghangatkan badan,” ujar seorang pria bertubuh tegap dan beraksen Batak. Dialah Junimart Girsang, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Italia, Malta, San Marino, Siprus, serta perwakilan RI untuk FAO, IFAD, WFP, dan UNIDROIT.

Jamuan makan malam itu menjadi pertemuan perdana Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) dengan Dubes Junimart sejak ia menempati posnya di Roma pada 17 Juni 2025. Rombongan dipimpin CF Mayong Suryo Laksono, didampingi Penasihat sekaligus pendiri PWKI AM Putut Prabantoro, serta dihadiri Anggota Komisi I DPR Nurul Arifin. Dari pihak KBRI, tampak Penasihat Politik Anang Fauzi Firdaus dan Penasihat Protokol/Konsuler Silvia Juliana.

Roma yang Hangat, Jamuan yang Membuka Cerita Di ruang makan bernuansa klasik, berbagai kisah mengalir. Tentang kedatangan Dubes Junimart ke Roma pada Juni, dinamika diplomasi, hingga sisi-sisi personal yang jarang muncul di ruang publik. Sajian sop buntut dan sambal teri medan menghangatkan suasana, disusul Limoncello minuman penutup khas Italia Selatan yang disajikan dingin dari freezer.

“Ini minuman penutup untuk membantu pencernaan, apa pun cuacanya,” ujar Junimart sembari mengangkat gelas Limoncello.

Nama lengkapnya panjang: Prof. Dr. Junimart Girsang, S.H., M.B.A., M.H., M.IP. Gelar itu bertambah ketika pada 24 Maret 2025 Presiden Prabowo Subianto mengangkatnya sebagai dubes, dengan portofolio tugas yang terbentang dari kawasan Mediterania hingga lembaga pangan dunia di Roma. Namun malam itu, panjangnya gelar diplomatik justru surut di balik satu kata yang berulang kali ia tekankan: cinta.

Cinta yang Menyatukan Di tengah percakapan, Putut Prabantoro menyampaikan sebuah kisah yang jarang diketahui publik: perhatian Dubes Junimart kepada para biarawan, biarawati, dan imam Katolik yang datang meminta bantuan. Perhatian itu diberikan tanpa pamrih.

“Semua itu dilakukannya karena cintanya kepada sang ibu,” ujar Putut.

Junimart lahir pada 3 Juni 1963 dari pasangan Rosdiana T br Munthe dan RKJ Girsang. Sang ibu memeluk agama Katolik, dan dari perempuan itulah ia belajar bahwa kasih adalah dasar dari segala perjumpaan.

“Apa pun agamanya, kasih itu menyatukan,” kata Junimart. “Seperti halnya kita duduk di meja ini malam ini. Kita disatukan bukan oleh kepentingan, tetapi oleh kasih.”

Keyakinan itu tampak pula di interior KBRI. Pada salah satu dinding tergantung salib dengan corpus, sementara pada sisi lain terpampang ayat-ayat Al-Qur’an. Keduanya dipisahkan oleh sebuah pintu — simbol visual tentang keberagaman yang tidak saling meniadakan.

“Kristen Protestan dan Katolik itu satu,” tambahnya, menyinggung pengalaman-pengalamannya di Sumatra Utara ketika membantu para misionaris Katolik.

Kasih yang menyatukan itu pula, menurut Junimart, yang menjadi alasannya berencana menempatkan patung Presiden Soekarno di titik tertentu di gedung KBRI Roma, sebagai penghormatan pada sejarah—karena gedung ini pernah dibeli langsung oleh sang proklamator.

Kisah A-1 di Meja Makan Ketika rombongan PWKI bersiap pulang menjelang pukul 11 malam, muncul pertanyaan dari wartawan Lucius Gora Kunjana tentang “informasi A-1” yang dibawa Putut Prabantoro. Kisah itu, menurut Putut, berasal dari Hermawi F. Taslim, Sekjen Partai Nasdem, yang suatu pagi menceritakan kepadanya tentang sisi personal Dubes Junimart saat mereka sarapan di Alam Sutera. Sebuah cerita tentang cinta anak kepada ibunya. Sebuah cerita yang malam itu menemukan konteksnya di meja makan KBRI Roma: meja yang mempertemukan diplomasi, sejarah, dan kemanusiaan dalam satu waktu.*sLt

Related Articles

Back to top button