DaerahNasionalNewsViral

Prof. Dr. Junimart Girsang: Dari Sidikalang ke Meja Dunia

Roma,JegeMedia.com–Ada orang-orang yang membawa tanah kelahirannya ke mana pun ia melangkah. Junimart Girsang adalah salah satunya. Ia adalah Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) R.I. Untuk Republik Italy, Republik Malta, Republik San Marino, Republik Siprus dan 4 Lembaga Internasional yaitu FAO, IFAD, WFP, UNIDROIT. Ia lahir di Medan, 3 Juni 1963, dari keluarga 7 bersaudara kandung yang berakar di Sidikalang. Ayahnya St. RKY Girsang, anggota DPRD DAIRI meninggal saat berusia 50 tahun 2 bulan, Ibunya seorang perawat di RSUD Sidikalang, sosok yang mengajarkan arti mengabdi pada sesama dalam diam. Masa kecilnya ditempa di SD Teladan Sidikalang, lalu SMP Negeri 1 Sidikalang, sebelum merantau jauh ke Bandung untuk menamatkan SMA BPPK. Dari sana ia berjalan lagi ke Universitas Katolik Parahyangan, menamatkan Sarjana Hukum pada 1990. Jejak pendidikan itu bukan sekadar daftar gelar. Ia adalah peta perjalanan seorang anak Dairi yang belajar bahwa merantau bukan untuk meninggalkan, tetapi untuk kembali membawa sesuatu yang lebih besar.

Sebelum politik memanggil namanya, hukum lebih dulu menjadi rumahnya. Pada 1991 ia mendirikan Junimart Girsang, S.H. & Rekan. Di ruang sidang ia belajar bahasa yang paling jujur: fakta, pasal, dan nurani. Ia menjadi kuasa hukum pejabat publik dan perusahaan, dalam dan luar negeri. Tapi lebih dari itu, ia belajar melihat retakan-retakan sistem. Sejak 2013 ia juga berdiri di depan kelas sebagai dosen tetap di Universitas Internasional Batam. Di sana ia tidak hanya mengajar hukum, ia mengajar keberanian untuk bertanya. Bagi Junimart, hukum bukan kitab yang mati. Ia adalah panglima. Ia adalah alat untuk melindungi yang lemah dari yang kuat.

Tahun 2014, ia melangkah ke Senayan. Selama satu dekade, 2014-2024, ia mewakili Sumatera Utara III di DPR RI. Di periode 2019-2024 ia duduk di Komisi II, membidangi pemerintahan daerah, otonomi, aparatur negara, kepemiluan, pertanahan, dan reforma agraria. Dari 2021 hingga 2024 ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi II. Di kursi itu ia tidak menjadi patung. Ia menjadi suara. Ketika demokrasi diuji di layar kaca, ia berhadapan dengan kritik tajam dan menjawab dengan kerangka konstitusi. Ketika kasus Djoko Tjandra menyingkap bobroknya jaringan di balik hukum, ia berteriak: “Jangan ajarkan ini ke anak bangsa.” Ia tidak sedang mencari popularitas. Ia sedang menjaga agar negara tidak kehilangan arah.

Pada 24 Maret 2025, panggungnya berganti. Dari gedung parlemen di Jakarta, ia dipanggil ke kota abadi: Roma. Sebagai Duta Besar/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Pangan dan Pertanian, ia kini berbicara bukan hanya untuk satu dapil, tetapi untuk 270 juta rakyat Indonesia. Pelantikan itu bukan akhir. Ia adalah perpindahan medan juang. Dari legislasi ke diplomasi. Dari interpelasi ke perundingan. Dari mimbar ke meja multilateral. Dan ia membawa satu koper yang tidak pernah ia tinggalkan: pengalaman sebagai anak desa, sebagai pengacara, sebagai politisi yang tahu bagaimana rasanya ketika kebijakan tidak sampai ke ladang.

Di Roma, pada 22 Juli 2026, ia berdiri sebagai panelis dalam “High-Level Side Event” bertajuk “Land, Fisheries and Forest Tenure: An Inclusive and Resilient Rural Transformation”, di sela 30th Session of the FAO Committee on Agriculture. Forum itu bukan seremoni. Itu adalah tempat arah dunia diputuskan. Di hadapan para diplomat dan pakar pangan, Junimart tidak membawa jargon. Ia membawa cerita Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana tata kelola lahan, perikanan, dan kehutanan yang inklusif adalah jawaban atas tiga krisis sekaligus: ketahanan pangan, pembangunan desa, dan kesejahteraan akar rumput. “Ketahanan pangan tidak akan pernah tercapai jika akses terhadap sumber daya agraria masih timpang,” katanya. Kalimat itu sederhana, tapi menohok, karena ia tahu persis siapa yang selama ini tidak pernah disebut dalam statistik.

Dalam paparannya, ia menunjuk tiga kelompok yang sering dilupakan namun paling menentukan: petani kecil, perempuan, dan generasi muda. Petani kecil adalah tulang punggung pangan, tapi sering tidak punya kepastian hukum atas tanah yang mereka garap. Perempuan adalah penggerak rantai pangan dari dapur hingga pasar, tapi suaranya jarang sampai ke meja keputusan. Generasi muda harus ditarik masuk agar pertanian tidak menjadi museum. Tanpa ketiganya, katanya, sistem pangan akan tetap rapuh. Ia mengangkat reforma agraria, hutan sosial, dan nelayan berbasis komunitas sebagai bukti bahwa Indonesia sedang bekerja. Bukan sempurna, tapi bergerak. Dan dunia perlu mendengar itu.

Hari ini, Prof. Dr. Junimart Girsang adalah perpaduan yang jarang ditemukan: pengacara yang fasih beretorika, politisi yang tidak takut bersuara, dosen yang masih mau mengajar, dan diplomat yang tidak melupakan ladang. Ia berjalan dari Sidikalang ke Bandung, dari Bandung ke Jakarta, dari Jakarta ke Roma. Tapi ia tidak pernah meninggalkan satu hal: keyakinan bahwa negara harus hadir untuk yang paling rentan. Dalam dirinya, Dairi dan Indonesia tidak bertentangan. Yang satu adalah akar, yang lain adalah langit. Dan ia sedang berusaha, dengan segala kemampuannya, menumbuhkan pohon di antaranya.*slt

Related Articles

Back to top button