NasionalNewsViral

Dubes Junimart Girsang Tegaskan Peran Strategis Hutan dan Air dalam Pembangunan Berkelanjutan di Forum FAO

Roma, JegeMedia.com – Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang, menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong pengelolaan hutan dan sumber daya air secara berkelanjutan dan berkeadilan dalam perayaan bersama Hari Hutan Internasional dan Hari Air Dunia 2026 di Markas Besar FAO, Roma, 19 Maret 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia menyampaikan apresiasi kepada FAO atas penyelenggaraan kegiatan yang dinilai strategis dalam meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya keterkaitan antara hutan dan air sebagai fondasi kehidupan dan pembangunan berkelanjutan. Momentum ini juga menjadi pengingat akan peran krusial kedua sumber daya tersebut dalam menopang kehidupan manusia serta menjaga keseimbangan ekosistem global.

Mengangkat tema “Hutan dan Ekonomi” serta “Air dan Gender”, peringatan tahun ini menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak hanya memiliki dimensi ekologis, tetapi juga dimensi ekonomi dan sosial yang perlu dikelola secara seimbang. Dalam hal ini, Indonesia menekankan bahwa keterkaitan antara hutan dan air merupakan pilar strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia, dengan luas mencapai sekitar 120,4 juta hektare atau setara 63 persen dari total wilayah daratan. Dalam konteks tersebut, hutan Indonesia berperan sebagai “infrastruktur alami” yang mengatur siklus hidrologi, meningkatkan infiltrasi air, mengurangi limpasan permukaan, serta menjaga kestabilan aliran sungai sepanjang tahun. Lebih dari 66 persen pasokan air bersih nasional berasal dari ekosistem hutan, sementara sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sumber air non-perpipaan.

Selain fungsi ekologis, hutan juga memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Indonesia menekankan bahwa pengelolaan hutan secara berkelanjutan dapat berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, serta penguatan ekonomi hijau yang inklusif.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Indonesia menempatkan pengelolaan hutan berkelanjutan sebagai prioritas dalam agenda pembangunan nasional 2025–2029. Kebijakan ini diwujudkan melalui lima prioritas utama, yaitu perlindungan hutan, penguatan tata kelola yang berkeadilan, pengembangan agroforestri, implementasi Kebijakan Satu Peta, serta transformasi digital dalam sektor kehutanan.

Upaya tersebut telah menunjukkan hasil yang positif. Pada tahun 2025, sektor kehutanan Indonesia berkontribusi lebih dari Rp130 triliun terhadap perekonomian nasional. Selain itu, program perhutanan sosial turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan, dengan nilai kegiatan ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp5,6 triliun.

Indonesia juga menegaskan pentingnya aspek sosial dalam pengelolaan hutan, termasuk melalui pendekatan yang inklusif dan partisipatif. Hal ini mencakup keterlibatan masyarakat lokal serta pengakuan terhadap hubungan budaya dan spiritual yang telah terjalin antara masyarakat dan hutan.

Di tingkat global, Indonesia secara konsisten mendorong kebijakan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan berkeadilan, khususnya dengan memberikan ruang yang memadai bagi negara berkembang untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hutannya secara bertanggung jawab.

Dalam konteks perubahan iklim, Indonesia menekankan bahwa konservasi dan pembangunan ekonomi tidak harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan secara sinergis. Hutan Indonesia memiliki peran penting dalam penyerapan karbon, menjaga stabilitas iklim global, serta melindungi keanekaragaman hayati.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Indonesia telah mengembangkan mekanisme perdagangan karbon di sektor kehutanan serta menetapkan target ambisius untuk mencapai FOLU Net Sink 2030. Target ini didukung oleh berbagai inovasi, termasuk Sistem Pemantauan Hutan Nasional (SIMONTANA), serta program rehabilitasi hutan dan lahan yang pada tahun 2025 berhasil melampaui target hingga lebih dari 700.000 hektare.

Indonesia juga menyoroti pentingnya ekosistem mangrove sebagai bagian dari solusi berbasis alam dalam menghadapi perubahan iklim. Selain berkontribusi terhadap penyerapan emisi karbon, mangrove juga berfungsi sebagai pelindung alami terhadap abrasi pantai dan dampak perubahan iklim, sekaligus mendukung penghidupan masyarakat pesisir.

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mengapresiasi peran FAO dalam memfasilitasi kerja sama internasional melalui berbagai program, termasuk berbagi pengetahuan, bantuan teknis, dan mobilisasi pembiayaan.

Menutup pernyataannya, Junimart Girsang menegaskan bahwa hutan dan air merupakan aset strategis global yang harus dijaga secara bersama.

“Melindungi hutan berarti melindungi air, dan melindungi air berarti melindungi kehidupan. Upaya menjaga keduanya merupakan investasi bagi masa depan berkelanjutan generasi mendatang,” tegas Junimart Girsang.

Indonesia menyatakan kesiapan untuk terus memperkuat kerja sama dengan FAO dan negara-negara anggota dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.*sLt

Related Articles

Back to top button